Video Gallery
News Headlines
- INDUSTRI TEKSTIL: Revitalisasi mesin perlu insentif
- Batasi Impor China, Selamatkan Industri Nasional
- Indonesia-Jepang kerja sama standarisasi
- Indonesia berhasil pasarkan produk perikanan
- Indonesia pasar potensial PERALATAN LABORATORIUM
- Nilai INVESTASI OTOMOTIF capai Rp32 triliun
- Indonesia Geser Malaysia di CSPO
- INDUSTRI SEPATU: Kemenperin optimistis ekspor sepatu nasional tumbuh 7%
- KAWASAN INDUSTRI dilirik investor Jepang untuk relokasi pabrik
- Dicari, 4 Juta Wirausaha yang Bisa Tingkatkan Investasi
- Industri Tepung Terigu Masih Cerah di 2012
- Industri Mesin Dikembangkan Sesuai Tren Pasar
- Desainer Italia akan bantu produk Cibaduyut
- Investasi Otomotif Ditingkatkan di Indonesia Timur
- Pengusaha Italia Jajaki Bisnis di Indonesia
- PABRIK TEKSTIL tak diimbangi pasok tenaga kerja
- Ekspor Produk Rotan Melonjak 8 Kali Pasca Larangan Jual Mentah
- Industri Elektronik Siap Terapkan SNI
- Omzet Industri Logistik Diprediksi Tumbuh Rp 10 Triliun
- Keramik Made in Indonesia Laris di Australia & Srilanka
Visitors Counter
| Industri Domestik Dapat Subsidi Gas Rp40 Triliun per Tahun |
Harga jual rata-rata gas untuk domestik tercatat 60% lebih rendah dibandingkan harga jual rata-rata untuk gas ekspor. Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Gde Pradnyana mengungkapkan harga jual rata-rata gas untuk domestik dalam kurun waktu 2009-2011 tercatat hanya sebesar US$4-US$4,5 per juta British themal unit (mmbtu). Sementara, harga jual rata-rata ekspor melalui pipa dan pengiriman kargo gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) pada periode yang sama mencapai US$10-US$11 per mmbtu. "Jadi jika dibandingkan dari selisih harga jual rata-rata gas ekspor yang lebih tinggi dari harga jual rata-rata gas domestik, sebenarnya kita telah memberikan ‘subsidi’ kepada industri domestik sebesar Rp40 triliun per tahun. Atau dengan kata lain, industri domestik telah mendapatkan subsidi sebesar Rp120 triliun dari harga jual gas yang murah tersebut,” ujar Gde, seperti dikutip dari situs BP Migas, Selasa (24/1). Menurut dia, harga gas domestik yg sangat murah seringkali membuat KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) enggan untuk mengembangkan lapangan gasnya untuk memenuhi pasar domestik. Hal tersebut tentu berpotensi mengancam kontinuitas ketersediaan gas untuk kebutuhan industri dalam negeri. Akibatnya, dalam jangka panjang harga gas yang sangat murah justru dapat merugikan industri dan konsumen gas dalam negeri. Dirinya mencontohkan rata-rata harga gas pipa domestik dari tahun 2009-2011 berkisar antara 40-50% dari harga gas pipa ekspor. Bahkan, harga gas ke PGN berada di bawah harga rata-rata nasional yang sebesar US$5,17 per mmbtu. Pasokan gas COPI (ConocoPhilips) ke PGN hingga saat ini hanya dihargai US$1,8 per mmbtu. Sementara harga rata-rata gas pipa ekspor tahun 2011 berada di kisaran US$13–US$14 per mmbtu. Sementara harga rata-rata ekspor LNG tahun lalu berkisar US$12–US$13 per mmbtu. "Jadi jika dibandingkan, sebenarnya penjualan gas ke domestik sangat jauh di bawah harga gas internasional. Hitungan kita, rata-rata kita 'menyubsidi' harga gas domestik sekitar Rp40 triliun per tahun,” katanya. Sumber: http://www.mediaindonesia.com |










(0 vote)
