Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Arka. Sejak kecil, Arka selalu punya mimpi besar: ingin menjadi seorang pengusaha sukses dan bisa membangun sekolah untuk anak-anak di desanya. Namun, hidup tidak selalu mudah. Keluarganya sederhana, dan ia tidak memiliki uang untuk sekolah tinggi.
Setiap hari, Arka membantu orang tuanya menjual sayuran di pasar. Teman-temannya sering meremehkannya. “Hanya tukang sayur, bagaimana bisa sukses?” kata mereka. Tapi Arka tidak menyerah. Ia percaya, impian tidak akan mengecewakan orang yang mau berusaha.
Setiap malam, setelah lelah bekerja, Arka belajar membaca buku-buku tentang bisnis yang ia pinjam dari perpustakaan desa. Ia mencatat ide-ide sederhana untuk mulai berjualan produk kecil dari rumah, sambil menabung sedikit demi sedikit.
Ada kisah mengenai dua orang sahabat yang sudah kenal sejak lama, yaitu Gal dan Hap. Gal adalah orang yang pendiam dan selalu mengerti bagaimana karakter Hap. Sebaliknya, Hap adalah orang yang blak-blakan dan apa adanya.
Walaupun ikatan persahabatan mereka sudah terjalin lama, sifat Hap yang blak-blakan itu seringkali menyakiti orang lain. Gal sering berpikir bahwa kenapa sifat sahabatnya ini tidak kunjung berubah sejak dulu.
Di suatu hari, Gal pernah menasehati Hap supaya ia harus merubah sifatnya dengan berkata, “Hap, cobalah untuk merubah sifatmu. Jika kelakuan terus seperti ini, banyak orang yang di sekitar akan menjauh, termasuk juga aku!”
Hap pun menjawabnya dan berkata, “Kamu itu sahabatku. Pastilah sudah sejak dulu memahami sifatku seperti ini. Tapi kalau kamu sudah tidak tahan dengan karakterku, tidak apa-apa jika ingin menyudahi pertemanan ini”.
Ada seorang penjahit tua tinggal di sebuah desa kecil.
Dia dikenal sebagai penjahit yang biasa membuat pakaian dengan kualitas tinggi, yang sangat bagus dan indah. Super sekali.
Penjahit itu menjual hasil jahitannya kepada orang-orang kaya di daerah tersebut dengan harga yang mahal.
Suatu hari, seorang pria miskin dari desa datang kepadanya dan berkata kepada si penjahit.
“Anda menghasilkan banyak uang dari pekerjaan anda, lalu mengapa anda tidak membantu orang miskin di desa?”
1. Jika kau ikhlas memberanikan diri, kau akan bertindak. Kalau kau penakut, kau akan bilang tak semudah itu.
2. Ikhlas adalah keberanian untuk melakukan yang tidak biasa, untuk mencapai hasil yang luar biasa.
3. Pemberani merasakan ketakutan yang sama dengan semua orang, tapi dia bertindak.
4. Kau tidak akan menjadi pribadi besar yang kau impikan itu jika kau hanya melakukan yang berani kau lakukan.
5. Banyak orang berani mengumbar janji cinta, tapi sedikit yang berani bertanggung-jawab dalam pernikahan.
Di sebuah gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50.
Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri.
Bahkan kerabat serta kolega dari kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun perkawinan pun berlangsung dengan megah dan sangat meriah.
Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah.
Sebelum menikmati jamuan tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa dari sang pejabat istana kepada istri tercinta.
Suatu hari, dua orang pengembara yang berjalan di tepi pantai, melihat tiram yang terdampar di pantai akibat laut pasang.
Mereka secepatnya menunjuk tiram tersebut dan berkata bahwa tiram itu adalah miliknya.
Mereka saling dorong-mendorong dan berebutan untuk mengambil tiram tersebut.
“Secara hukum, siapapun yang melihat tiram ini terlebih dahulu, menjadi pemilik sah-nya dan berhak untuk menyantapnya, yang melihatnya belakangan, cukup menonton pemilik tiram ini makan.”
“Kalau begitu, sayalah pemilik sahnya, karena saya yang melihat tiram ini terlebih dahulu,” jawab temannya, “Untungnya saya memiliki mata yang jeli.”
Page 1 of 33



