Kementerian Perindustrian terus memperkuat langkah dekarbonisasi sektor manufaktur sebagai bagian dari transformasi menuju industri hijau dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia. Upaya tersebut diwujudkan melalui penguatan implementasi pengukuran, pelaporan, serta verifikasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang kredibel dan terstandar di lingkungan industri nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, transformasi industri menuju ekonomi hijau membutuhkan komitmen seluruh pelaku industri dalam menerapkan tata kelola emisi yang akuntabel dan sesuai standar internasional.
“Verifikasi emisi GRK merupakan bagian penting dalam membangun industri nasional yang berdaya saing global, berkelanjutan, serta adaptif terhadap tuntutan pasar internasional. Langkah ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mencapai target Net Zero Emission dan penguatan daya saing industri nasional di pasar global,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (8/6).
Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global pada Mei 2026 tercatat sebesar 50,0 atau naik dibandingkan capaian bulan April 2026 yang berada pada level 49,1.
Menurut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin), peningkatan tersebut menandakan kondisi operasional sektor manufaktur nasional kembali berada pada ambang ekspansi setelah sebelumnya mengalami kontraksi ringan.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kenaikan PMI manufaktur Indonesia menunjukkan daya tahan industri nasional di tengah berbagai tantangan global, terutama gangguan rantai pasok dan ketidakpastian pasokan bahan baku impor.
"Peningkatan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 mencerminkan respons industri dalam menjaga keberlangsungan produksi di tengah dinamika global yang masih berlangsung. Pelaku industri melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat stok bahan baku guna memastikan kegiatan produksi tetap berjalan dalam beberapa bulan ke depan," ujar Agus Gumiwang dalam siaran pers, Rabu (3/6/2026).
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya mengoptimalkan potensi industri minuman ringan nasional di tengah pelemahan daya beli masyarakat yang masih dirasakan pelaku usaha.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan, minuman ringan merupakan salah satu bagian dari subsektor minuman yang terdiri dari air minum dalam kemasan (AMDK), kopi dan teh kemasan, serta minuman sari buah dan minuman berkarbonasi. Secara volume, produk AMDK mendominasi pangsa pasar sebesar 62%.
Hingga saat ini, tercatat setidaknya 126 unit industri minuman ringan dengan kapasitas produksi mencapai 15,5 miliar liter per tahun.
"Industri ini menghasilkan efek ganda terhadap tumbuhnya sektor perekonomian lainnya seperti sektor transportasi, penjualan ritel, dan industri-industri pendukungnya seperti kemasan, dan lain-lain," ujar Merrijantij dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
LEMBAGA pemeringkat dunia, Standard & Poor's Global Ratings (S&P), melaporkan Purchasing Managers’ Index atau PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 naik secara bulanan menjadi 50,0 alias kembali ke zona ekspansi. PMI Manufaktur pada April tercatat 49,1.
Pada bulan kelima ini, panelis mencatat perusahaan mengalami kenaikan pesanan, tetapi di saat yang bersamaan kekurangan bahan baku produksi. “Perekonomian manufaktur Indonesia masih mengalami tekanan selama Mei, karena produksi terhambat oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input,” kata ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam laporan tertulis, Selasa, 2 Juni 2026.
Penerimaan pesanan baru tercatat meningkat selama dua bulan berturut-turut, dengan tingkat pertumbuhan tertinggi sejak Februari.
Kinerja permintaan utamanya didorong perbaikan permintaan domestik. Sementara itu, kinerja ekspor turun semakin tajam. Penjualan internasional menurun selama tiga bulan berjalan dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021.
Kinerja manufaktur Indonesia mulai merangkak naik. Laporan S&P Global memperlihatkan data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di level 49,1.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengatakan perolehan tersebut secara angka mengindikasikan kondisi operasional yang mulai stabil. Namun, indikasi stabilitas ini berpotensi hanya ilusi.
Pasalnya, indeks manufaktur hanya ditopang oleh permintaan baru dari pasar domestik, yang mengindikasikan konsumen lokal menimbun stok untuk mengantisipasi gejolak harga di masa depan.
Secara eksternal, ekspor turun selama tiga bulan berturut-turut dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021 akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan tingginya harga bahan baku di pasar global. Kondisi ini selaras dengan surplus neraca perdagangan April 2026 yang merosot ke level US$ 89,1 juta, terendah sejak defisit pada masa pandemi pada April 2020.
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai penguatan industri bahan baku domestik menjadi kunci untuk menjaga daya tahan industri manufaktur nasional di tengah meningkatnya tekanan biaya produksi akibat dinamika global.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan tekanan terhadap industri manufaktur mulai terlihat sejak Maret 2026 setelah sebelumnya aktivitas industri masih relatif kuat pada Januari-Februari.
“Kalau kita melihat secara triwulan I secara keseluruhan agregat masih positif, masih 5 persen,” kata Faisal kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan I 2026 dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Page 1 of 161



